Kristal-kristal enamel tersusun rapat satu sama lain dan dipisahkan oleh ruang interkristalin (berisi air dan mineral)
(+ asam)

Mineral di permukaan kristal akan hilang sehingga ukuran kristal mengecil dan ruang interkristalin bertambah besar.

Jaringan enamel menjadi lebih berporus.

White spot lesion.

Zona I
(Translusen zone)
Zona II
(Dark zone)
Zona III
(Body of lesion)
Zona IV
(Surface zone)
Porus > enamel normal (volume porus 1% atau 10x enamel normal).Volume porus 2-4%; demineralisasi bervariasi.
Porus bisa lebih besar, bisa lebih kecil dari zona I (bila terjadi remineralisasi).
Volume porus 5-25%.
Daerah lesi paling luas.
Demineralisasi maksimal akibat adanya bakteri.
Relatif normal karena terjadi remineralisasi maksimum (dari komponen inorganik plak dan saliva).

D1: Dalam keadaan kering terlihat, porusitas sedikit.
D2: Dalam keadaan basah terlihat, porusitas lebih banyak.

Pada lesi enamel belum ada kavitas karena asam berpenetrasi ke prisma enamel, demineralisasi subsurface, permukaan utuh karena terjadi reminteralisasi. Lesi enamel dapat menjadi berwarna kecokelatan karena penyerapan material eksogen ke dalam porus.

Selanjutnya surface zone dapat terjadi destruksi dan membentuk kavitas pada enamel. Klasifikasi karies enamel menjadi D3.


Sumber: Pedoman dan Tatalaksana Praktik Kedokteran Gigi.

By Infodrg